Jumat, 21 Januari 2011
Teori klasik perkembangan perguaan
1. Teori Vadose-Dwerry house (1907), Greene (1908), Matson (1909), dan Malott (1937) mempertahankan bahwa sebagian besar perkembangan gua berada di atas water tabel dimana aliran air tanah paling besar. Jadi, aliran air tanah yang mengalir dengan cepat, yang mana gabungan korosi secara mekanis dengan pelarutan karbonat, yang bertanggung jawab terjadap perkembangan gua. Martel (1921) percaya bahwa begitu pentingnya aliran dalam gua dan saluran (conduit) begitu besar sehingga tidak berhubungan terhadap hal terbentuknya gua batu gamping sehingga tidak relevan menghubungkan batugamping yang ber-gua dengan dengan adanya water table, dengan pengertian bahwa permukaan tunggal dibawah keseluruhan batuannya telah jenuh air.
2. Teori Deep Phreatic-Cjivic (1893), Grund (1903), Davis (1930) dan Bretz (1942) memperlihatkan bahwa permulaan gua dan kebanyakan pembesaran perguaan terjadi di kedalaman yang acak berada di bawah water table, sering kali pada zona phreatic yang dalam. Gua-gua diperlebar sebagai akibat dari korosi oleh air phreatic yang mengalir pelan. Perkembangan perguaan giliran kedua dapat terjadi jika water table diperrendah oleh denudasi (penggundulan) permukaan, sehingga pengeringan gua dari air tanah dan membuatnya menjadi vadose dan udara masuk kedalam gua. Selama proses kedua ini aliran permukaan dapat masuk ke sistem perguaan dan sedikit merubah lorong gua oleh korosi.
3. Phreatic Dangkal atau Teori Water Table-Swinnerton (1932), R Rhoades dan Sinacori (1941), dan Davies (1960) mendukung gagasan bahwa air yang mengalir deras pada water tabel adalah yang bertanggungjawab terhadap pelarutan di banyak gua. Eleveasi dari water table berfluktuasi dengan variasi volume aliran air tanah, dan dapat menjadi perkembangna gua yang kuat didalam sebuah zone yang rapat diatas dan dibawah posisi rata-rata. Betapapun, posisi rata-rata water table harus relatif tetap konstan untuk periode yang lama. Untuk menjelaskan sistem gua yang multi tingkat, sebuah water table yang seimbang sering dihubungkan dengan periode base levelling dari landscape diikuti dengan periode peremajaan dengan kecepatan down-cutting ke base level berikutnya.
Sekalipun sebagian besar speleologis akan setuju bahwa tiga teori diatas dapat diaplikasikan pada beberapa hal, kebanyakan akan diperdebatkan apakah gua dibentuk terutama pada atau didekat water table. Masuknya aliran bawah permukaan, biasanya dikelompokkan sebagai teori vadose, telah memiliki sedikit dukungan selama beberapa tahun. Mallot (1937) menyimpulkan bahwa gua-gua yang besar di bagian Selatan Indiana dihasilkan dari aliran permukaan menjadi terbelokkan kedalam bawah tanah dan membuat gua-gua pada atau didekat water table. Mallot (1952) menyebutkan Lost River di Indiana adalah salah satu contoh yang baik dari invasi aliran permukaan terhadap bawah permukaan. Woodward (1961) dan Howard (1963), dan Crawford (1978; 1987) terkenal diantara yang lainnya yang memiliki usulan mengenai teori invasi terhadap perkembangan gua.
Dalam diskusi hidrologi daerah batu gamping Smith, Atkinson dan Drew (1976) mengusulkan bahwa debate pada alam drainase batu gamping telah terjadi antara dua kampus yang besar sedangkan sebelumnya ada tiga.
Satu kampus, mengambil gagasan dari Grund (1903), telah mempertahankan bahwa sirkulasi air dalam batu gamping secara mendasar sama dengan rekahan batuan lain, dan untuk itu gua-gua berkembang sebagai sebuah konsekuensi dari sirkulasi dan tidak besar pengaruh polanya (lihat, sebagai contoh, Davis, 1930; Swinnerton, 1932; Rhoades dan Sinacore, 1941). Di pihak lain, kampus berikutnya mengikuti Martel (1910) cenderung untuk mempertahankan bahwa tanpa gua dan lorong tidak akan terdapat sirkulasi bawah tanah, atau secara virtual tidak ada, dan untuk itu rezim air tanah kawasan batugamping sama sekali berbeda dengan batuan lain (Trombe, 1952). (Ford dan Cullingford, 1976, p. 209).
Mereka menyimpulkan bahwa dua model yang rupanya saling berseberangan antara Grund dan Martel adalah tipis, kecuali kasus yang ekstrim dari berbagai pandangan mengenai kemungkinan sistem drainase dan bahwa sebagian besar bentukan rupa kawasan batugamping dari dua kampus, sedangkan area yang menampilkan salah satu bahan dari yang lain adalah tipis saja.
Problem utama dari teori klasik dari asal muasal gua adalah peran minor yang ditempatkan terhadap struktur, stratigrafi, topgrafi, dan keadaan hidrologi. Sekarang terlihat nyata bahwa tidak ada satu teori tentang asal muasal dan perkembangan gua dapat diaplikasikan ke semua gua. Ford (Ford dan Cullingford, 1976) bertahan bahwa dimulai sejak dua situasi geologi tepat sama, satu teori umum dari speleologi adalah tidak mungkin. Sekalipun banyak faktor umum untuk terhadap banyak area kepentingan relatif mereka akan tergantung kepada situasi geologi dan kemudian tiap area akan memiliki sejarah speleogenisis sendiri yang unik.
Sedangkan, jika ada area dengan situasi geologi yang sangat sama, dapat dipercayai bahwa model speleogenesis dapat dikembangkan untuk daerah yang memilki kesamaan struktur, stratigrafi, setting topografi dan hidrologi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_klasik_perkembangan_perguaan
Rabu, 02 Juni 2010
Ekowisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan kawasan pelestarian alam yang telah ditetapkan sejak tahun 2004. Kawasan ini memiliki luasan 43.750 hektar yang terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki 3 tipe ekosistem hutan, yaitu ekosistem hutan pegunungan, karst, dan hutan dataran tinggi. Ekosistem hutan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi baik kelimpahan jenis flora maupun fauna.
Tidak hanya itu kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mendapatkan berbagai macam julukan akibat keunikan ekosistem maupun potensi keanekaragaman hayati. “spectacular tower karst” julukan bagi kawasan ini akibat bentang alam karst yang dimiliki merupakan karst berbentuk conical hill yang unik terbesar kedua di dunia. ”The kingdom of butterfly”julukan ini diterima kawasn ini akibat melimpahnya jenis dan jumlah kupu –kupu.
Berbagai atraksi wisata terdapat di kawasan ini dan sangat saying jika dilewatkan. Berikut adalah 6 tujuan wisata di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang dapat dikunjungi:
Tujuan wisata utama :
1) Kompleks Wisata Air terjun “BANTIMURUNG”
Lokasi : Bantimurung, Maros
Atraksi Wisata : wisata keluarga, satwa, wisata tirta
Jarak tempuh : 42 km dari kota Makassar
20 km dari Bandara Hassanudin
Waktu tempuh : 1 jam dari kota Makassar
45 menit dari Bandara
Obyek wisata : gua batu dan mimpi, air terjun, kupu –kupu, kera hitam, kuskus,
Akomodasi : wisma, hotel, dapat ditempuh dengan angkutan umum
Fasilitas : kolam renang, baruga, wisma, museum kupu – kupu, pusat informasi
Gambaran umum :
Kompleks wisata air terjun bantimurung memiliki suguhan menarik sebagai alternative wisata alam keluarga. Tidak hanya air terjun, kompleks ini juga memiliki alternative wisat a menarik, gua yang terdiri dari dua gua alam yaitu gua batu dan gua mimpi. Bagi anda yang senang berenang anda bisa menikmati kolam renang di sekitar kompleks dengan berbagai macam ukuran.
Jika anda sekedar ingin duduk – duduk di pinggir air, anda bias menikmati panorama danau karst di danau kassi kebo.
HTM : Dewasa Rp. 10.000,00 Anak – anak Rp. 5.000,00 Turis Rp. 20.000,00
Galleri : 2 foto bantimurung
2) PATTUNUANG --- ASUE
Lokasi : Pattunuang, Maros
Atraksi Wisata : wisata minat khusus, outbond, camp, satwa
Jarak tempuh : 43 km dari kota Makassar
1 km dari kompleks wisata air terjun bantimurung
Waktu tempuh : ± 1 jam dari kota Makassar
Obyek wisata : sungai, gua, jalur trail, track, satwa liar dan endemik
Akomodasi : dapat diakses dengan kendaraan umum
Fasilitas : jalur trail, jalan track
Gambaran umum :
Jika anda menyukai petualangan, udara dan air yang bersih, dan ingin mendirikan tenda atau kemping?, pattunuang adalah tempat yang tepat. Untuk melihat beberapa satwa endemic seperti kuskus beruang, kuskus Sulawesi, atau tarsius anda dapat menemuinya di kawasan ini atau jika ingin sedikit petualangan dengan berjalan mendaki anda dapat mengunjungi desa parang tembok atau putte. Di lokasi ini dapat dilakukan outbond, hiking, atau tracking memasuki hutan dataran tinggi.
HTM : Domestic Rp. 2.500,00 Mancanegara Rp. 20.000,00
Galleri : 1 foto pattunuang (sungai) dan 1 foto tarsius
3) Penangkaran Kupu-kupu
Lokasi : kompleks wisata Bantimurung dan kompleks wisata Pattunuang
Atraksi Wisata : wisata edukasi
Jarak tempuh : lihat no.1 dan 2
Waktu tempuh : lihat no.1 dan 2
Obyek wisata : penangkaran, pemeliharaan, dan pengembangbiakan kupu – kupu
Akomodasi : dapat ditempuh dengan angkutan umum
Fasilitas : -
Gambaran umum :
Wisata edukasi menjadi alternative wisata bagi pecinta kupu – kupu dan lingkungan. TN Babul memiliki 2 penangkaran, yaitu di bantimurung (berada di kompleks wisata bantimurung) dan pattunuang. Di penangkaran ini dapat diketahui beberapa jenis kupu – kupu dan informasi seputar kupu – kupu.
HTM : Biaya pendampingan utk kegiatan outbond/study tour Rp. 100.000,00
Galleri : 1 foto penangkaran dan 1 foto
4) Puncak “ BULUSARAUNG “
Lokasi : Tompobulu, Pangkep
Atraksi Wisata : wisata minat khusus, pendakian, agrowisata
Jarak tempuh : ± 3 jam dari kota Makassar
± 1 jam dari kabupaten pangkep
Waktu tempuh :
Obyek wisata : puncak gunung, sight seeing
Akomodasi : desa wisata, homestay
Fasilitas : shelter dan base camp pendaki
Gambaran umum :
Puncak bulusaraung merupakan tempat tertinggi dikawasan ini. Dengan ketinggian kurang dari 2000 mdpl, puncak ini dapat didaki oleh para pendaki pemula maupun bagi pendaki pro yang ingin mencari sensasi lain. Tidak hanya itu, tompobulu, desa wisata di kaki bulusaraung menawarkan suasana pedesaan bagi yang ingin bersantai. Tompobulu merupakan desa agrowisata yang memiliki potensi tinggi dalam hal keanekaragaman hayati, desa ini merupakan desa penghasil madu hutan dan gula merah yang dapat dijadikan buah tangan
HTM : Rp. 2.500,00
Galleri : 1 foto puncak bulusaraung, 1 foto view, dan 1 foto tompobulu